Untuk dapat hasil panen yang memiliki kualitas yang terjamin, tentunya bibit kelapa sawit yang dipilih juga tidak boleh sembarangan. Maka dari itu, perlu dilakukan pemilihan bibit unggul untuk ditanam sehingga nantinya hasil panen yang didapat tidak akan mengecewakan. Sebetulnya, seperti apa ciri-ciri bibit sawit yang unggul itu?Ciri-Ciri Bibit Kelapa Sawit yang UnggulBagi para petani sawit, untuk menanam jenis pohon yang satu ini tidaklah sesulit yang dibanyangkan. Cara penanamannya pun hampir sama dengan pohon-pohon lainnya. Namun terkadang, hal yang cukup sulit adalah memilih bibit bibit kelapa sawit unggul merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk dapat menghasilkan buah kelapa sawit yang berkualitas dari kebunnnya. Hasil panen yang berasal dari bibit unggul biasanya tidak akan mengecewakan. Namun, hal tersebut pun tergantung dari bagaimana merawat tanaman ini adalah beberapa ciri bibit sawit yang unggulBerasal dari Kecambah Biji plumula 1/3 dan radikula 2/ licin dan tidak di lembaga Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Kecambah memiliki ukuran yang hama dan para pengusaha kelapa sawit akan membeli bibit kelapa sawit di berbagai toko pertanian yang menyediakannya atau juga pada petani sawit lokal. Yang menjadi masalah adalah tentang bagaimana cara memilih bibit unggul sawit yang akan Memilih Bibit dari KecambahHal-hal penting yang mesti diperhatikan ketika hendak menanam pohon kelapa sawit jika yang berasal dari kecambahnya adalah sebagai berikutMengenali kriteria bibit kelapa sawitMemilih bibit yang telah tersertifikasi oleh pemerintah di Pusat Penelitian Kelapa SawitMemilih bibit dengan massa sekitar 0,8 gram ukuran minimalMemilih bibit yang mempunyai mata tunas berwarna putih serta tidak caca, biasanya ukuran panjang tunasnya tidak lebih dari 2 cmMemilih bibit yang hanya memiliki satu mata tunasMemilih bibit yang tidak memiliki mata tunas yang bengkok dan masih dalam keadaan segar2. Bibit Siap TanamHal-hal yang perlu diperhatikan jika hendak menanam sawit dengan bibt yang sudah siap tanam dalam polybagMemilih bibit dengan usia sekitar 10-12 bulanMemilih bibit dengan warna pelepah yang hijau tuaMemilih bibit yang memiliki daun pelepah sekitar 15 hingga 18 pelepahMemilih bibit dengan ukuran tinggi sekitar 102-126 cmMemilih bibit yang terbebas dari penyakit tanamanMemilih bibit yang memiliki lilit batang berukuran sekitar 17-18 cmPemeliharaan Kelapa SawitPada umumnya, pemeliharaan yang diakukan terhadap bibit kelapa sawit ini hampir sama dengan pemeliharaan bibit tanaman lain pada umumnya. Akan tetapi, terdapat beberapa hal yang harus lebih diperhatikan. Selain itu, dalam perawatannya harus sering melakukan pengontrolan pada tanaman sawit supaya tidak mudah terserang dengan hama dan pohon sawit dapat dilakukan dengan caraMelakukan penyiraman 2 kali dalam sehariMelakukan penyiangan dengan membersihkan gulma atau tanaman liar di sekitar kelapa sawitMelakukan seleksi bibit abnormal dan normal setelah pohon ditanamMelakukan pemupukan yang rutin dengan menggunakan pupuk yang tepat dengan cara yang juga sudah bisa memilih bibit unggul kelapa sawit serta melakukan pemeliharaan yang tepat pada tanaman, maka hasil panen yang didapatkan pun akan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, hal ini juga dapat memengaruhi hasil produksi minyak sawit yang dibutuhkan.
Miscellaneous Tanaman Sawit di Lahan Gambut Sumber Kebutuhan buah kelapa sawit meningkat tajam seiring meningkatnya kebutuhan CPO dunia, seperti yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini terutama sejalan dengan peningkatan kebutuhan untuk industri turunan dan pengembangan bio energy sebagai alternatif bahan bakar Ditjenbun, 2012. Hal ini mendorong investor dari dalam negeri maupun luar negeri untuk membangun perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkembangan luas area perkebunan kelapa sawit yang revolusioner mulai terjadi sejak tahun 1980-an. Perkembangannya sangat pesat hingga pada tahun 2017 luas area perkebunan sawit mencapai sekitar 14 juta hektar. Padahal pada awal tahun 1980-an, luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih sekitar 249 ribu hektar Ditjenbun, 2022. Permintaan buah kelapa sawit tersebut menyebabkan dibutuhkannya lahan yang lebih banyak untuk menanam kelapa sawit, sementara lahan mineral jumlahnya terbatas. Berdasarkan data dari BBSDLP tahun 2011, Indonesia memiliki lahan gambut sebesar hektar yang tersebar di Sumatra, Kalimantan dan Papua. 40-50% lahan gambut tersebut potensial untuk dikembangkan untuk pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, dilakukan pengelolaan lahan gambut untuk menanam tanaman kelapa sawit. Lahan gambut merupakan lahan dengan tanah jenuh air, terbentuk dari endapan yang berasal dari penumpukan residu jaringan masa lampau yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm Rancangan Standard Nasional Indonesia-R-SNI, Badan Sertifikasi Nasional, 2013. Lahan gambut memiliki kandungan organik senyawa karbon sangat tinggi yaitu 6-91% di seluruh lapisan. Tidak semua tanaman bisa tumbuh di lahan gambut, kelapa sawit adalah salah satunya. Lahan gambut merupakan lahan yang potensial untuk tanaman kelapa sawit. Produksi kelapa sawit pada lahan gambut bisa mencapai 20 ā 25 ton/ha/tahun, sehingga tidak kalah jika dibandingkan dengan produksi kelapa sawit pada jenis tanah lain Setiadi, 1999. Berdasarkan data dari Ditjen Perkebunan Kementrian Pertanian 2011, luas lahan gambut hingga tahun 2011 yang dimanfaatkan untuk pengembangan perkebunan sawit adalah seluas Ha. Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit ini bisa menjadi peluang yang bagus bagi perusahaan asuransi karena akan menjadi sumber premi tambahan untuk perusahaan. Namun, hal yang harus menjadi perhatian bagi perusahaan asuransi adalah tanaman sawit ini rentan untuk mengalami kerugian akibat kebakaran. Berikut adalah tabel yang menunjukan perbandingan premi dan klaim asuransi tanaman sawit yang diambil dari BPPDAN tahun underwriting 2013-2022. Terlihat dalam kurva di atas bahwa loss ratio dari tanaman sawit ini selalu di atas 100% setiap tahunnya. Hal ini karena risiko kebakaran yang terjadi pada perkebunan sawit masih sulit untuk dicegah. Penyebab kebakaran di perkebunan kelapa sawit ini bisa dibagi menjadi dua yaitu faktor manusia dan faktor alam. Faktor manusia menjadi moral hazard yang bisa memicu terjadinya kebakaran. Contoh moral hazard adalah yang bisa memicu kebakaran pada perkebunan sawit Membuang puntung rokok sembarangan di dalam kebun Membiarkan kebun kotor dibenuhi semak belukar, alang-alang Membakar kebun dengan sengaja Faktor yang kedua adalah faktor alam. Faktor alam ini berkaitan dengan kondisi musim yang terjadi di Indonesia. Pada saat musim kemarau, curah hujan sebagai sumber air utama menjadi sangat rendah sehingga menimbulkan situasi defisit air atau kekeringan. Tanaman sawit yang tumbuh pada lahan gambut memiliki exposure terhadap kebakaran lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman sawit yang tumbuh pada lahan mineral. Pada saat musim kemarau, permukaan air tanah pada lahan gambut mengalami penurunan yang terjadi baik secara alami maupun akibat system drainase, maka lapisan tanah gambut terutama gambut tembal menjadi sangat kering dan mudah terbakar. Analisis data riwayat kebakaran di Global Forest Watch Fires juga menegaskan bahwa kebakaran cenderung terkonsentrasi pada konsesi pertanian dan lahan gambut di Indonesia. Kebakaran pada tanaman sawit yang ditanam di lahan mineral terjadi pada permukaan tanah, sementara kebakaran pada lahan gambut terjadi di bawah permukaan tanah. Hal ini terjadi karena lapisan gambut di bawah permukaan lebih mudah terbakar jika mengalami kekeringan karena sifat gambut yang mentah berbentuk serat atau fibrist. Sebaliknya, lahan gambut di permukaan atas relatif lebih matang saprist atau hemist. Oleh karena itu, penanganan kebakaran yang dilakukan pada lahan gambut berbeda dengan lahan mineral. Penanganan kebakaran pada lahan tanah cukup dengan penyemprotan air di permukaan tanah. Sementara, penanganan tersebut tidak cukup untuk kebakaran yang terjadi pada lahan gambut. Penggenangan lahan dianggap jauh lebih efektif dalam menangani kebakaran di lahan gambut, yaitu dengan segera menutup seluruh pintu-pintu air di sekitar lokasi lahan yang terbakar dan memompa air ke dalam lahan yang terbakar. Dikarenakan risikonya lebih tinggi, maka underwriter harus lebih berhati-hati dalam melakukan akseptasi tanaman sawit yang ditanam pada lahan gambut. Rate premi yang diterapkan juga harus lebih tinggi untuk tanaman sawit yang ditanam pada lahan gambut dibandingkan dengan lahan mineral. Selain itu, usia tanaman juga perlu mendapat perhatian dalam melakukan askeptasi. Hal yang perlu diperhatikan juga adalah moral hazard dari tertanggung. Seperti disebutkan di atas, moral hazard dari tertanggung bisa memicu terjadinya risiko kerugian yang tidak diinginkan. Sumber Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian. 2011. Peta Lahan Gambut Indonesia skala 1 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, Kementrian Pertanian. Bogor. Ditjen Perkebunan. 2011. Kebijakan Pengembangan Kelapa Sawit Berkelanjutan. Makalah disampaikan pada Seminar Implementasi RSPO di Indonesia. Jakarta, 10 Februari 2011. Hariyadi, Saragih, Mey Jastri. 2016. Pengelolaan Lahan Gambut di Perkebunan Kelapa Sawit di Riau. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Hasmana, Soewandita. 2022. Kajian Pengelolaan Tata Air dan Produktivitas Sawit di Lahan Gambut Studi Kasus Lahan Gambut Perkebunan Sawit PT Jalin Vaneo di Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 2022 41 ā 50 Andres Chamorro, Susan Minnemeyer dan Sarah Sargent. 2017. Riwayat Kebakaran di Indonesia untuk Mencegah Kebakaran di Masa Depan. [internet]. [ diunduh pada 22 september 2022]. Tersedia pada Redaksi Majalah Sawit Indonesia. 2014. Pencegahan Dan Penanganan Kebakaran Di Perkebunan Kelapa Sawit. [internet]. [diunduh pada 22 September 2022]. Tersedia pada Wahyunto dan Ai Dariah. 2013. Pengelolaan Lahan Gambut Terdegradasi dan Terlantar untuk Mendukung Ketahanan Pangan. [internet]. [diundug 22 September 2022]. Tersedia pada
BacaJuga: Paludikultur, Konsep Pertanian yang Cocok untuk Lahan Gambut. Pakar: Biaya Lahan Rawa Jadi Pertanian 4 Kali Lipat Dari Tanah Biasa. Paludikultur dapat digunakan untuk kehutanan, agroforestri, produksi tanaman dan pakan, serta bahan baku untuk energi, konstruksi, produk biokimia dari 165 spesies yang ditemukan selama ini cocok untuk Perkebunan kelapa sawit di Indonesia terbentang di sepanjang Sumatera hingga ke Sulawesi. Hampir di seluruh penjuru tanah air, perkebunan sawit didirikan di atas lahan gambut. Lahan gambut memiliki peran penting dari sisi ekonomi serta ekologi. Lahan ini merupakan tempat bagi keanekaragaman hayati dan populasi yang dilindungi serta sebagai penyuplai air, penyedia hasil hutan, dan pengendali banjir. Dalam proses pelaksanaannya, lahan gambut dijadikan alternatif pengganti lahan mineral sebagai areal yang dianjurkan bagi perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan yang dibuka di areal tanah ini hanya diperbolehkan pada lahan yang terdegradasi, sementara untuk areal hutan, lahan gambut tetap dipertahankan sebagai hutan gambut. Hal ini untuk mengurangi terjadinya kemarau serta tingginya emisi gas rumah kaca yang diakibatkan akibat pembukaan areal perkebunan dengan cara membakar dan merusak ekosistem lingkungan. Lokasi hutan yang telah didegradasi akan dimanfaatkan sebagai areal budidaya kelapa sawit. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum dimulainya proses penanaman adalah 1. Penyesuaian Lahan2. Pembukaan Lahan yang Baik3. Manajemen Air4. Pemadatan Gambut5. Pembangunan dan Peningkatan Kualitas Jalan6. Pelaksanaan Kultur Teknis yang Baik7. Pemupukan8. Pengawasan Terhadap Titik Api 1. Penyesuaian Lahan Membudidayakan jenis tanaman palem ini pada areal gambut perlu pertimbangan dan harus dipastikan lahan sesuai untuk budidaya kelapa sawit. Hal yang paling penting dan perlu diingat adalah lokasi yang akan digunakan tidak bertentangan dengan peraturan dan layak dijadikan tempat usaha. Keberhasilan budidaya tergantung pada proses perawatan dan kelola kebun dengan baik. Faktor-faktor yang memengaruhi adalah kematangan tanah gambut, kedalaman lapisan pirit, dan frekuensi serta lama genangan. Manajemen pengairan yang baik akan menjadi ujung tombak berhasilnya pengairan di areal ini atau tidak. 2. Pembukaan Lahan yang Baik Lokasi yang cenderung kering akan menyebabkan hutan mudah terbakar dan menyebabkan kekeringan yang parah ketika musim kemarau tiba. Oleh karena itu, pengelolaan kebun tanpa membakar atau metode zero burning perlu diperhatikan. Membakar areal secara sembarang akan mengurangi unsur hara yang terkandung dalam bahan organik yang mungkin tersisa. Kebakaran areal gambut akan memberi dampak yang tidak baik pada kualitas perkebunan, kesehatan manusia, hingga hilangnya nilai ekonomi bagi warga disekitar areal yang terbakar. 3. Manajemen Air Hal ini perlu diperhatikan mengingat areal yang kaya akan unsur organik ini adalah kering dan sangat sedikit kapasitas air di dalam tanah sehingga dibutuhkan sistem drainase yang tepat agar lahan tetap basah dan memiliki cadangan air. Manajemen air mencakup pengaturan permukaan air dipertahankan pada 50 ā 75cm, mencegah kekeringan di musim kemarau, mencegah oksidasi pirit, dan mencegah akumulasi garam. Bagian lain dari manajemen pengairan ini juga mencakup benteng yang berfungsi menahan air pasang, serta parit untuk mengumpulkan dan menyalurkan air dan pintu air yang berfungsi mempertahankan muka air dan menahan air pasang. 4. Pemadatan Gambut Memiliki tujuan untuk memadatkan tanah sehingga memiliki daya topang yang baik terhadap tanaman agar tidak mudah doyong condong. 5. Pembangunan dan Peningkatan Kualitas Jalan Hal ini mencakup penimbunan tanah mineral sebanyak 20 ā 30 cm, perataan dan pemadatan serta pengerasan dengan pasir dan kerikil/batu. 6. Pelaksanaan Kultur Teknis yang Baik Dalam melaksanakan kultur teknis yang baik, hal yang perlu diperhatikan adalah upaya untuk mengendalikan produksi, pengendalian gulma, hama dan penyakit, pemeliharaan jalan, perbaikan kualitas panen serta perawatan sarana yang digunakan untuk proses pemanenan. 7. Pemupukan Selama ini yang terjadi diperkebunan adalah penggunaan pupuk kimia yang berfokus pada produksi pohon bukan kepada perbaikan kualitas tanah. Padahal penting untuk mengikat sejumlah unsur tanah yang diperlukan oleh tumbuhan seperti memanfaatkan pupuk organik MOAF yang diproduksi oleh PT Propadu Konair Tarahubun Plantation Key Technology/PKT yang telah terbukti meningkatkan kualitas tanaman. 8. Pengawasan Terhadap Titik Api Antisipasi terhadap musim kemarau yang memicu kekeringan pada perkebunan yang didirikan di atas tanah gambut perlu diperhatikan dengan mendirikan menara untuk memantau titik api yang muncul serta pembuatan marka tingkat bahaya api dan membuat organisasi yang mengendalikan laju penambahan titik api. Delapan hal di atas menjadi acuan yang paling penting sebelum memulai proses pengerjaan. Kunci keberhasilan suatu perkebunan tergantung bagaimana cara masing-masing orang mengelola dan mengembangkanya dengan baik tanpa merugikan pihak manapun. Bagi perusahaan yang memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai seputar perkebunan kelapa sawit, dapat mengunjungi website atau menghubungi whatsapp 0821-2000-6888. aI5YKTE.